Majene – Lima Sidik. Dilahirkan dalam keluarga sederhana dan dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Nasrah, tak pernah berhenti berusaha, akhirnya berhasil meraih prestasi yang luar biasa dengan mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Nana, sapaan akrabnya, lahir pada tanggal 20 Januari 2000, merupakan alumni Program Studi (Prodi) Tadris Bahasa Inggris (TBI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, angkatan 2018. Ia tak pernah membayangkan akan mendapat beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi magister.

Awalnya, informasi mengenai beasiswa LPDP Nana dapat dari dosen pembimbingnya, yaitu Ibu Rabiatul Adawiyah. Informasi tersebut menjadi pemicu bagi Nana untuk mencari tahu lebih lanjut tentang beasiswa tersebut.

Nana mengungkapkan bahwa ia pernah kehilangan semangat berkuliah dan bahkan mempertimbangkan untuk berhenti di semester 5 karena keterbatasan finansial dan sempat dijodohkan juga.

“Saya menikah dan akhirnya bercerai karena merasa tidak cocok, dan memang pernikahan dini begitu marak terjadi di kampung Saya, entah itu karena faktor dijodohkan atau kenakalan remaja,” ungkap Nana

Nana menambahkan, sejak kejadian itu ia kehilangan semangat kuliah, tapi akhirnya semangat itu dibangkitkan oleh dirinya sendiri.

“Saya hanya datang untuk kuliah. Namun lama-kelamaan Saya bisa bangkit belajar dengan fokus karena lingkungan kampus yang mendukung. Dan Alhamdulillah Saya bisa selesai tepat waktu. Namun, tidak pernah terlintas sedikitpun untuk melanjutkan S2 apalagi beasiswa,” tambahnya.

Nana melanjutkan bahwa ia berasal dari daerah pelosok, lebih tepatnya dari Desa Sarangian, Kecamatan Alu dengan akses listrik dan jalan yang belum memadai. Jika ingin bersekolah mesti naik rakit dahulu menyebrangi sungai, dan antre setiap paginya.

“Itu juga yang menjadi salah satu penyebab kurangnya minat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dan hal ini juga yang sempat membuat motivasi belajar Saya menurun,” jelasnya.

Bagi Nana, hidup di lingkungan di mana pendidikan kurang diminati dan putus sekolah sudah menjadi kebiasaan dan merupakan tantangan baginya. Kurangnya edukasi mengenai pendidikan dan dampak negatif teknologi seperti gadget malah menjadi pengaruh buruk bagi anak di desanya.

Di tengah tantangan itu, Nana tetap memukul kakinya untuk terus berjalan meraih cita-citanya.

“Sejauh 2,5 Kilometer setiap hari Saya menyebrangi sungai dan mendaki gunung demi bisa bersekolah meraih cita-cita Saya sejak kecil untuk menjadi seorang guru dan bertekad turut berkontribusi membenahi kampung halaman Saya, terutama dalam hal pendidikan,” tuturnya.

Dengan pengalamannya, Nana ingin berbagi informasi dan cerita kesempatannya mendapat beasiswa LPDP. Nana ingin melanjutkan studi magisternya di kampus-kampus ternama seperti Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Negeri Makassar (UNM).

Dalam kesempatan ini, Nasrah mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rabiatul Adawiyah dan sekeluarga yang telah membantu banyak hal temasuk biaya kuliah dan akhirnya mendapat kesempatan untuk lanjut ke jenjang magister.

“Selain dukungan keluarga, beliau juga sangat berperan penting dalam hidup Saya. Saya selalu ingat, beliau mengatakan bahwa kondisi finansial bukanlah alasan untuk tidak melanjutkan pendidikan karena Tuhan akan selalu memberi jalan pada setiap umatNya yang berusaha,” ungkapnya.

Terakhir, Nasrah memberikan semangat untuk semua yang sedang mengejar cita-cita.

“Jangan putus asa dan selalu libatkan Tuhan dalam kondisi apa pun agar semuanya tetap berjalan lancar. Jika kalian berasal dari pelosok Saya, maka jangan kubur mimpi kalian tetapi kejarlah dan jangan pernah ragu meperjuangkannya,” tutupnya.

Penulis: Anafika
Editor: Ainung Salim

2 thoughts on “Dari Titik Terendah Menuju Puncak: Perjalanan Inspiratif Nasrah yang Kini Bersinar dengan Beasiswa LPDP”

  1. Huhu nama panggilan saya dengan kak Nasrah itu sama. Saya pun Nana. Saya kagum dengan semangatnya untuk memajukan diri. Semoga bisa seperti beliau

  2. Huhu nama panggilan saya dengan kak Nasrah itu sama. Saya pun Nana. Saya kagum dengan semangatnya untuk memajukan diri. Semoga bisa seperti beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow by Email
Facebook
Facebook
YouTube20
Instagram0