Majene – Lima Sidik. Muhammad Mutawalli Mukhlis, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, resmi meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu Hukum dari Universitas Hasanuddin Makassar pada Jumat (31/01/2025).

Ia menyelesaikan studinya dalam waktu 2 tahun 4 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 dan predikat sangat memuaskan. Ia tengah mengajukan perubahan predikat menjadi cumlaude karena telah memenuhi syarat publikasi dua artikel di jurnal bereputasi Scopus.

Disertasinya berjudul “Pengaturan Rekrutmen Calon Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Berbasis Kaderisasi Melalui Partai Politik”. Ujiannya dihadiri tujuh penguji, yakni Prof. Dr. Achmad Ruslan, Prof. Dr. Yunus Wahid, Prof. Dr. Hamzah Halim, Prof. Dr. Aminuddin Ilmar, Prof. Dr. Syamsul Bachri, Prof. Dr. Andi Pangerang Moenta, serta Prof. Dr. Suparto Wijoyo dari Universitas Airlangga (UNAIR).

Selama menempuh studi doktoral, Mutawalli menghadapi tantangan besar dalam membagi waktu antara kewajibannya sebagai dosen di STAIN Majene dan tuntutan akademik di Universitas Hasanuddin.

“Saya harus mengorbankan salah satu dari dua tanggung jawab yang dijalankan. Namun, dalam perjalanan studi doktoral, saya lebih banyak mengurangi rutinitas di STAIN Majene. Bukan berarti mengesampingkan kampus yang saya cintai, tetapi saya percaya bahwa program doktor harus dijalani dengan fokus penuh,” ujarnya.

Untuk menjaga produktivitas, ia lebih memilih bekerja di tempat ramai daripada mencari suasana sunyi. Baginya, keseimbangan emosional dan kondisi mental sangat berpengaruh terhadap efektivitas belajar.

“Ketika merasa lelah, sebaiknya berhenti sejenak. Jangan memaksakan diri, karena itu bisa memengaruhi mood dan semangat kita dalam menyelesaikan penelitian,” tambahnya.

Dukungan dari STAIN Majene turut berperan besar dalam kelancaran studinya, terutama dalam hal izin akademik dan pembimbingan.

Sebagai pesan bagi mahasiswa dan kolega yang ingin melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, Mutawalli menekankan pentingnya persiapan yang matang dan manajemen waktu yang baik.

“Persiapkan road map penelitian sejak dini agar saat pengajuan judul, kita sudah memiliki dasar yang kuat. Kemampuan menulis, membaca, serta menginventarisasi jurnal-jurnal yang relevan juga sangat krusial dalam menyelesaikan studi doktoral,” pesannya.

Ia juga menegaskan pentingnya keteguhan dan komitmen dalam menjalani proses akademik.

“Jangan mau menjadi donatur dalam waktu lama,” tutupnya dengan candaan.

Reporter: Ainung Salim
Editor: Annida Indah Khofiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow by Email
Facebook
Facebook
YouTube20
Instagram0