Majene–Lima Sidik. Ikatan Alumni (IKA) PAI Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene berkolaborasi dengan Free Palestine Network (FPN) Pokja Majene, Ikatan Alumni STAIN Majene, serta sejumlah organisasi mahasiswa (Ormawa) STAIN Majene menggelar kegiatan nonton bareng film Farha. Kegiatan ini mengangkat tema “Mengenal Nakba, Menemukan Jalan Pulang Berjumpa Rasulullah SAW” dan berlangsung di Gedung Perpustakaan STAIN Majene lantai 3 pada Jumat (15/5/26).
Acara ini dihadiri oleh anggota FPN Pokja Majene, Ormawa STAIN Majene, Ikatan Alumni STAIN Majene, anggota HMJ dari setiap jurusan, anggota HMPS dari setiap program studi, anggota study club STAIN Majene, serta ratusan peserta yang tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa STAIN Majene.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh FPN Pokja Majene bekerja sama dengan Ikatan Alumni PAI STAIN Majene, Ikatan Alumni STAIN Majene, dan Ormawa STAIN Majene. Dalam upaya memperluas pelaksanaan kegiatan, panitia mengusung konsep kolaborasi dengan melibatkan berbagai organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus, seperti Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Senat Mahasiswa (SEMA), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), serta berbagai study club. Kolaborasi ini dilakukan untuk memperluas partisipasi dan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut.
Ketua panitia, Nurul Hazirah Hamzah, menjelaskan bahwa kegiatan nonton bareng film Farha digelar untuk memperingati Hari Nakba yang diperingati setiap 15 Mei. Kegiatan ini bertujuan mengenang tragedi kemanusiaan di Palestina, menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap isu kolonialisme secara kritis dan intelektual, serta memperkuat kolaborasi mahasiswa STAIN Majene dalam membangun gerakan edukatif.
“Harapan kami setelah pemutaran film ini, mahasiswa maupun peserta lainnya memiliki kesadaran dan refleksi diri bahwa kolonialisme harus senantiasa dilawan dengan cara yang intelektual, terorganisasi, terpimpin, dan lebih terarah. Sebagai mahasiswa yang merupakan insan intelektual, cara menyikapi kolonialisme juga harus dilakukan secara intelektual,” ujarnya.
Salah satu peserta, Tsabitah Zafirah, mengaku merasa sedih dan tegang saat menyaksikan film Farha karena film tersebut menggambarkan penderitaan rakyat Palestina dari sudut pandang tokoh Farha. Ia berharap masyarakat Palestina, khususnya anak-anak, dapat memperoleh kehidupan yang layak serta akses pendidikan dan kesehatan yang baik seperti yang dirasakan masyarakat Indonesia.
“Perasaan saya selama menonton tadi sangat sedih dan menegangkan. Filmnya juga menghadirkan rasa takut sehingga, walaupun hanya melalui layar, kita bisa merasakan apa yang dialami oleh Farha. Harapan saya, semoga anak-anak dan masyarakat Palestina dapat merasakan kehidupan yang layak seperti yang kita rasakan saat ini, termasuk dalam hal pendidikan dan akses kesehatan,” tutupnya.
Reporter: Arfa Yunita
Editor: Dewi Karlina